Bahasa Jawa untuk siapa? Pertanyaan itu mencuat dalam diskusi pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa, 18 Agustus 2026. Prof. Dr. Endang Nurhayati sebagai salah satu narasumber melontarkan pertanyaan tersebut. Beberapa guru peserta bimtek menjawab bahwa bahasa Jawa hanya untuk orang Jawa atau orang yang tertarik pada Jawa. Selanjutnya, muncul pertanyaan tentang bagaimana jika orang Jawa sudah tidak tertarik pada bahasa Jawa. Pertanyaan-pertanyaan yang memancing diskusi kemudian bergulir hingga bimtek tersebut menjadi hidup.
Pada pertemuan itu, narasumber lain yang tidak kalah menarik, Stefanus Prigel Siswanto atau lebih dikenal Dalijo Angkring, juga memberi materi praktik pewara Jawa atau pranatacara. Peserta yang terdiri atas guru Bahasa Jawa SMP dan SD sederajat di Kota Yogyakarta antusias menjajal kemampuan menjadi pewara. Meskipun tidak mudah, mereka berani mencobanya.
Selain itu, K.M.T. Projo Suwasono menjadi pemateri praktik macapat. Panembrama atau koor macapat pun bergaung di ruang bimtek.
“Peserta siap mengimbaskan materi bimtek kepada guru sejawat dan siswa,” ujar Ratun Untoro, koordinator Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) DIY.
Rangkaian RBD telah berjalan sejak Februari 2026 dan digerakkan serentak bersama Pemerintah Daerah DIY melalui berbagai program. Masyarakat dari berbagai kalangan pun menyambut positif program RBD di DIY. Untuk itu, program ini perlu terus ditingkatkan agar bahasa Jawa makin mampu mengungkapkan konsep dan pikiran warga dunia. Demikian Ratun memungkasi diskusi.