Rabu siang (22/4) terasa berbeda. Puluhan guru utama berkumpul untuk mengikuti Bimbingan Teknis Laksita Basa Jawa yang digelar Balai Bahasa Provinsi DIY. Dengan penuh semangat, mereka menyimak pemaparan narasumber tentang “Penulisan Aksara Jawa,” sebuah topik yang mengajak peserta menelusuri jejak sejarah sekaligus tantangan modern dalam menjaga warisan budaya tulis Jawa.
Dalam penjelasannya, narasumber menguraikan perjalanan panjang aksara Jawa yang berakar dari aksara Pallawa, berkembang seiring media tulis, hingga memiliki variasi bentuk di berbagai daerah. Ia menekankan pentingnya memahami fonologi dan morfologi dalam menulis aksara Jawa, serta memperkenalkan pedoman tradisional dan versi prasaja yang lebih sederhana. Menariknya, kini aksara Jawa juga hadir dalam bentuk digital melalui pengembangan fonta yang dapat diakses secara daring, membuka peluang baru bagi generasi muda untuk belajar dan melestarikan aksara ini.
Kegiatan bimtek ini menegaskan bahwa menulis aksara Jawa bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sebuah proses pembiasaan yang membutuhkan pemahaman mendalam. Meski berbeda dengan alfabet Latin yang lebih umum digunakan, aksara Jawa menyimpan kekayaan budaya yang tak ternilai. Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan mampu menularkan semangat dan pengetahuan kepada siswa, sehingga aksara Jawa tetap hidup, relevan, dan menjadi bagian dari identitas kebahasaan bangsa di era digital.