“Aku akan terus mengingat memori indah selama belajar bahasa Indonesia di Jogja. Aku … jatuh cinta sama Jogja,” ungkap Osara, pemelajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) yang saat ingin pulang ke kampung halamannya di Yokohama, Jepang.
Osara merupakan satu di antara banyaknya para pemelajar BIPA yang memutuskan untuk menyimpan Jogja di sudut hatinya. Atmosfer kehangatan dan keramahan Jogja memang seperti sihir, membuat siapa pun sulit menolak singgah di dalamnya. Manusia, budaya, dan nilai menjadi hal yang menarik bagi mereka untuk bersua dan belajar bahasa.
Pengalaman Osara tersebut cukup menggambarkan bahwa Jogja memiliki daya tarik dan kesan tersendiri bagi pemelajar BIPA. Selama ini, Jogja memang kerap disebut sebagai Kota Pelajar. Namun, julukan itu rasa-rasanya harus ditambah pula dengan gelar Kota Bahasa. Bagaimana tidak, Yogyakarta menyajikan sejumlah pusat pembelajaran bahasa, paparan budaya, dan ekosistem pendidikan yang mendukung proses akuisisi bahasa.
Selain memiliki banyak kampus, Yogyakarta juga merupakan salah satu daerah dengan jumlah lembaga BIPA terbanyak di Indonesia. Per Agustus 2025, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat bahwa terdapat lebih dari 24 lembaga BIPA yang aktif mengajar di Yogyakarta (Kurniawati, 2025). Semua lembaga tersebut berdiri di bawah naungan instansi pendidikan, pusat kebudayaan, dan lembaga kursus di kota dengan slogan “berhati nyaman” ini.
INCULS, Lembaga BIPA yang Terus Bertumbuh
Di antara banyaknya lembaga BIPA yang ada di Jogja, Indonesian Language and Culture Learning Service (INCULS) adalah lembaga BIPA yang tertua. Lembaga yang berdiri di bawah Pusat Bahasa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) ini awalnya bernama Pusat Studi Indonesia yang berdiri pada 1987 dan berganti nama menjadi Learning Bahasa Indonesia as A Foreign Language (LBIFL) pada 1992. Namun, pada tahun 2000, LBIFL berganti nama lagi menjadi INCULS. “Lembaga ini berfokus mengasah dua keterampilan bahasa dan empat keterampilan berbahasa. Keterampilan bahasa terdiri atas tata bahasa dan kosakata, sedangkan keterampilan berbahasa terdiri atas membaca, menulis, berbicara, serta menyimak,” jelas Dr. Wira Kurniawati, Koordinator INCULS periode 2021–2024, pada saat kunjungan Duta Bahasa Provinsi DIY 2025 ke INCULS UGM.
Program yang diselenggarakan INCULS pun sangat beragam. Mulai dari program reguler setiap semester, intensif selama beberapa bulan, privat, hingga kelas tutorial. Kelas
tutorial merupakan sesi yang memiliki daya tarik tersendiri. Melalui pengalaman belajar di luar kelas, sesi ini bertujuan untuk mempercepat proses adaptasi dan pemahaman pemelajar BIPA. Pada sesi ini, seorang pemelajar akan ditemani oleh seorang tutor yang merupakan mahasiswa lokal agar intens belajar bahasa dan budaya Indonesia. Tutorial dapat berupa penambahan materi, pendampingan pengerjaan tugas, ataupun wisata budaya. Osara, salah satu pemelajar BIPA asal Jepang, mengaku bahwa kelas tutorial sangat membantunya dalam menambah kosakata bahasa Indonesia.

Gambar 1 Surat dari Pemelajar BIPA untuk Tutornya
Kota Budaya dan Pendidikan yang Ramah
Predikat Kota Budaya yang disematkan pada daerah istimewa ini juga dimanfaatkan sebaik mungkin oleh INCULS. Ekosistem pendidikan dan warisan budaya lokal diolah demi pengembangan pembelajaran BIPA yang adaptif. “Kurikulum BIPA yang ditetapkan pemerintah masih memerlukan penyesuaian sesuai konteks daerah. Di Jogja, kami mengintegrasikan program karyawisata ke berbagai destinasi, mulai dari Gunung Merapi, Malioboro, Pasar Kranggan, hingga Museum Sonobudoyo,” ungkap Dr. Wira Kurniawati, yang juga menjabat sebagai Ketua Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA Jogja (APPBIPA Jogja) 2025. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan menyenangkan.
Selain budayanya yang kaya, keramah-tamahan masyarakat Jogja juga menjadi magnet yang kuat bagi para pemelajar BIPA. Budaya unggah-ungguh, saling sapa, dan gotong royong membuat Jogja mudah menjelma menjadi “rumah” kedua bagi para diaspora. Belajar dan beradaptasi di lingkungan baru tentu saja tidak mudah. Tanpa adanya dukungan dari tenaga pengajar, komunitas, dan masyarakat sekitar, proses adaptasi tentu tidak akan berjalan mulus. Nyatanya, kehangatan Jogja terus menyelimuti para pemelajar BIPA dan mengundang lebih banyak peminat setiap tahunnya.

Gambar 2 Pemelajar BIPA bersama Tutor Mengunjungi Situs Bersejarah di Yogyakarta
Untuk memperkokoh wawasan budaya, INCULS menyediakan kelas budaya dengan ragam pilihan, seperti membatik, memainkan gamelan, silat, hingga tari tradisional. Saat kelas membatik, misalnya, pemelajar BIPA tidak hanya praktik menggambar atau mewarnai motif batik dengan canting, tetapi mereka juga dikenalkan dengan filosofi, fungsi, serta sejarah asal-usul batik. Tak jarang, pengalaman itu berlanjut pada kecintaan baru pula. Miranda Ley, pemelajar BIPA asal Australia, mengaku membeli sepuluh batik setelah mengikuti kelas membatik. “Aku suka motif batik yang unik. Ini akan membuat aku ingat sama Jogja,” ujarnya penuh antusias kepada tutornya.

Gambar 3 Pemelajar BIPA Mengikuti Kelas Budaya Membatik
Tutor BIPA Sapa Dunia
Peran tutor dalam kelas tutorial INCULS juga sangat penting. Dalam proses pendampingan pembelajaran, tutor dapat menjadi rekan yang mampu mempercepat proses adaptasi pemelajar BIPA. Mereka juga berfungsi sebagai diplomat mini yang memperkenalkan serta mempromosikan nilai budaya dan bahasa Indonesia. Melalui proses seleksi dan pembekalan, mahasiswa yang terpilih menjadi tutor BIPA diharapkan mampu berbagi dan bertukar wawasan budaya dengan pemelajar BIPA. Dengan begitu, hubungan belajar dua arah pun terbangun. Penutur asing belajar bahasa dan budaya Indonesia, sedangkan tutor turut memperluas cakrawala internasionalnya.
Keberadaan tutor BIPA sejatinya tidak hanya sekadar menjadi pendamping belajar. Lebih dari itu, keberadaan tutor di kelas tutorial ini dapat menjadi wadah mengasah kompetensi global mahasiswa yang dibutuhkan di abad ke-21. Kini, pasar tenaga global membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan literasi dasar membaca, menulis, dan numerasi. Generasi muda juga dituntut menguasai keterampilan kolaborasi lintas budaya, kreativitas pemecahan masalah, serta kemampuan komunikasi efektif (Kemendikdasmen, 2024). Dengan pengalaman mendampingi pelajar asing, mahasiswa belajar untuk beradaptasi sekaligus menjadi bagian dari cetak biru internasionalisasi dan pemartabatan bahasa Indonesia.
Selain itu, keterlibatan mahasiswa sebagai tutor BIPA juga membangun karakter yang kuat. Mereka ditantang untuk terus gigih saat menghadapi hambatan komunikasi, memelihara rasa ingin tahu akan perbedaan budaya, serta berinisiatif mencari pendekatan kreatif agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Dengan demikian, peran sebagai tutor BIPA menjadi wadah aktualisasi diri generasi muda Indonesia sebagai warga global. Pengalaman ini akan memperkaya kapasitas mereka sehingga kelak mampu bersaing di pasar tenaga kerja internasional.

Gambar 4 Kelas Tutorial Pemelajar BIPA bersama Tutor
Bahasa Indonesia Mendunia dari Jogja
Banyaknya jumlah lembaga BIPA dan beragam model pembelajaran yang terus dikembangkan di Jogja tidak lepas dari minat dan apresiasi masyarakat terhadap bahasa Indonesia yang terus meningkat. Apalagi, bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi pada Sidang Umum UNESCO sejak 2023 lalu. Pengakuan ini tentu membuat posisi bahasa Indonesia makin mentereng di kancah global. Hingga Agustus 2024, Kemendikbudristek mencatat bahwa terdapat 183 ribu pemelajar BIPA aktif di berbagai belahan dunia (Negara, 2024). Perkembangan tersebut juga diiringi oleh hadirnya kebijakan pemerintah untuk terus mengukuhkan derajat bahasa Indonesia.
Pada Februari 2025 lalu, pemerintah meluncurkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar
dan Menengah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia. Hal ini turut digencarkan untuk mengimbangi minat para pemelajar BIPA yang kian meningkat dan menjamin pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia di berbagai lini. INCULS sebagai lembaga BIPA turut mengapresiasi kebijakan taktis ini. Sejak lama, INCULS telah menyuarakan pentingnya mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Di area kampus, misalnya, di kawasan Fakultas Ilmu Budaya UGM, INCULS tak sedikit memasang plang dan spanduk bertuliskan “Area Khusus Berbahasa Indonesia”.

Gambar 5 Papan Peringatan Pengutamaan Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik yang Dibuat INCULS
Selain spanduk, penamaan ruang kelas belajar di INCULS pun menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya, INCULS menggunakan istilah Ruang S-430, alih-alih menggunakan istilah Room S-430. Stiker penanda di depan pintu kelas pun ditulis Kelas Lanjut, bukan Advanced Class. Berdasarkan hasil wawancara bersama Zamchasari, salah seorang staf INCULS menyampaikan bahwa INCULS berencana menambahkan variasi nama kelas dengan sentuhan lokal Yogyakarta. “Sejauh ini, terpikir dari tim nama tokoh wayang atau pahlawan dari Jogja,” ungkapnya.
Tak hanya yang terlihat secara fisik, para tenaga pengajar dan staf INCULS tak segan untuk terus mengingatkan siapa pun, baik pemelajar BIPA maupun mahasiswa lokal untuk menggunakan bahasa Indonesia. Dalam penyelenggaraan kegiatan, INCULS juga konsisten menggunakan bahasa Indonesia hampir pada setiap kesempatan. Apabila audiens sama sekali belum pernah bersinggungan dengan bahasa Indonesia, INCULS akan menggunakan bahasa internasional atau bahasa mitra tutur sambil mengampanyekan penyebarluasan penggunaan bahasa Indonesia.
Sayangnya, nama INCULS sendiri merupakan akronim dari istilah berbahasa asing dan kerap dianggap belum mengutamakan bahasa indonesia. Pemilihan istilah dalam bahasa asing ini tentu bukan pilihan yang tidak berdasar. Menurut Zamcha, pertimbangan menggunakan bahasa internasional ini ditujukan untuk mempermudah calon pemelajar BIPA menemukan
rumah belajar yang tepat. “Jadi, pemilihan istilah asing tersebut memang boleh dikatakan jadi salah satu siasat untuk menarik atensi masyarakat global,” jelasnya.
Merajut Asa, Menutup Celah
Meski Jogja memiliki banyak pusat pembelajaran BIPA dengan beragam program menarik, implementasinya di lapangan masih memiliki banyak celah perbaikan. Seperti yang diungkapkan Dr. Wira Kurniawati, sinergi antarlembaga dan kementerian belum terjalin optimal. “Pada momen-momen teknis seperti urusan administrasi, calon pemelajar BIPA kerap menghadapi kendala pengurusan visa dan izin lainnya,” keluhnya. Dalam hal ini, Kementerian Luar Negeri dan kedutaan memiliki andil untuk membuat proses administrasi yang lebih sederhana. Kemudahan ini nantinya akan berdampak pula pada percepatan internasionalisasi bahasa Indonesia.
Dari sisi perdagangan dan industri nasional pun, pengutamaan bahasa Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Tidak jarang ditemui dokumen perjanjian, agenda rapat, dan iklan pemasaran di dalam negeri yang lebih mengedepankan bahasa asing. Sikap segan dan rendah diri menggunakan bahasa nasional membuat posisi bahasa Indonesia kerap terpinggirkan. Padahal, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Perdagangan memiliki ruang untuk menetapkan regulasi, misalnya mewajibkan pelaku usaha asing untuk bisa menguasai bahasa Indonesia sebelum menjalankan kegiatan bisnis. Kebijakan seperti ini bukan hanya mempermudah interaksi dengan konsumen lokal, tetapi juga mengangkat martabat bahasa Indonesia di mata dunia.
Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi sinergis antara lembaga, kementerian, dan pemangku kepentingan. Cita-cita mulia kedaulatan bahasa Indonesia ini hanya bisa terwujud jika ada semakin banyak pihak yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk turut mendukungnya. Maraknya antusias pemelajar BIPA dari seluruh dunia, perlu diimbangi dengan keluasan hati untuk berbenah dari dalam. Perlu kerja kolektif, lintas sektor, dan berkelanjutan agar bahasa Indonesia benar-benar berdiri tegak sebagai bahasa berdaulat dan menyongsong pendidikan bermutu hebat.
Elvira Sundari
Razif Raihan Rasyid
Referensi
Fakultas Ilmu Budaya UGM. (2023). “INCULS”. Diakses pada 25 Agustus 2025 melalui https://fib.ugm.ac.id/en/work-units/inculs
Indonesian Language and Culture Learning. (2025). “INCULS Video Profile”. Diakses pada 25 Agustus 2025 melalui https://www.youtube.com/watch?
v=LUUHleOriHc
Kemendikdasmen. (2024). Risalah Kebijakan Nomor 3. Memperkuat Literasi Indonesia: Menuju Bangsa yang Maju dan Bermartabat. Diakses pada 26 Agustus 2025 melalui https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/page/view/4204
Kurniawati, Wira. (2025). Wawancara dengan Dr. Wira Kurniawati, S.S., M.A.
Negara, Agus Eka Purna. (2024). “Mendikbudristek Catat Ada 183 Ribu Pembelajar BIPA Aktif”. Diakses pada 26 Agustus 2025 melalui https://www.detik.com/bali/berita/d-7517487/mendikbudristek-catat-ada-183-ribu-pembelajar-bipa-aktif
Zamchasari. (2025). Wawancara dengan Zamchasari, S.S.