Yogyakarta, 14 Juli 2026 — Aula Balai Bahasa Provinsi DIY siang itu dipenuhi semangat siswa baru SMP Islam Terpadu Masjid Syuhada. Mereka datang dalam rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), bukan sekadar untuk berkenalan dengan dunia baru, tetapi juga untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan literasi.
Ustazah Heni Az-Zahra, perwakilan sekolah, membuka acara dengan pesan hangat. Ia mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga. Kepada para siswa, ia berpesan agar kesempatan ini dimanfaatkan dengan aktif bertanya dan menyerap ilmu sebanyak mungkin.
Pimpinan Balai Bahasa DIY, Drs. Umar Solikhan, M.Hum, menyambut rombongan dengan penuh apresiasi. Beliau menegaskan empat program utama lembaga: literasi, perlindungan bahasa daerah, pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik, serta internasionalisasi bahasa Indonesia. Beliau juga berbagi kabar gembira: pada 27 Juli mendatang, Balai Bahasa akan meluncurkan enam juta buku literasi di Kudus. “Kecakapan literasi adalah kunci daya saing bangsa,” tegasnya, sembari mengajak siswa untuk rajin membaca seperti kebiasaannya sejak kecil di perpustakaan.
Ahmad Khoirus Salim, S.S. menekankan pentingnya literasi bagi generasi muda yang kelak akan menghadapi bonus demografi 2045. Ia memperkenalkan tiga platform digital gratis:
Budi (Buku Digital): budikemdikbud.id
SIBI (Sistem Informasi Perbukuan Indonesia): buku.kemendikdasmen.go.id
Penjaring (Penerjemahan dalam Jaringan): penerjemahan.kemendikdasmen.go.id
Ketiga platform ini memungkinkan siswa mengakses bacaan berkualitas kapan saja, di mana saja.
Aji Prasetyo, S.S. memperkenalkan UKBI sebagai tolok ukur kemampuan berbahasa. Tes ini dikemas interaktif, mirip permainan, dengan tiga sesi: mendengarkan, merespon kaidah, dan membaca. Ia juga mengenalkan sumber daya daring seperti KBBI Daring, PASTI, dan KBJI yang memudahkan pencarian kata baku maupun padanan istilah asing.
Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata dari SMP IT Masjid Syuhada kepada Balai Bahasa DIY sebagai simbol penghargaan. Dokumentasi foto dan video turut dilakukan sebagai arsip kegiatan. Kunjungan ini bukan hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi langkah nyata menumbuhkan semangat literasi sejak dini. Harapannya, siswa SMP IT Masjid Syuhada pulang dengan bekal baru: kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan motivasi untuk terus membaca.