GKR. Hemas menerima audiensi Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY dan rombongan di kediaman Kraton Kilen, Yogyakarta pada Senin (6/1/2024). Kepala Balai Bahasa menyampaikan pelaksanaan Revitalisasi Bahasa Daerah (khususnya Bahasa Jawa) di DIY sepanjang tahun 2024. Rangkaian panjang kegiatan itu antara lain melaksanakan pelatihan guru Bahasa Jawa SD dan SMP sederajat, pendampingan pengimbasan, dan pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) pada 16 November 2024 di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta. Acara FTBI yang sempat tertunda satu jam karena diguyur hujan itu dihadiri oleh 1.300 orang pelaku dan tokoh pelestari Bahasa Jawa. Balai Bahasa DIY juga memberi penghargaan kepada tokoh, media massa, dan instansi/lembaga yang melestarikan bahasa Jawa. Selain itu, Kepala Balai Bahasa DIY juga menyerahkan buku cerita anak berbahasa Jawa dan terjemahan dalam bahasa Indonesia serta buku kumpulan cerita pendek Jawa karya anak.
Pada kesempatan audiensi pagi itu, Kepala Balai Bahasa DIY (Dwi Pratiwi) didampingi Kasubbag Umum (Linda Candra Ariyani), Koordinator RBD (Ratun Untoro), Koordinator Penerjemahan (Wuri Rohayati), Koordinator Pemerkayaan Kata dan Istilah ( Nur Ramadhoni Setyaningsih), Koordinator Tim Data dan Informasi (Mursid Saksono), dan tiga Duta Bahasa DIY.
Ratun Untoro selaku Koordinator RBD menyampaikan keuntungan Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang mempunyai Kasultanan dan Pakualaman sebagai pusat kebudayaan Jawa. Yogyakarta juga hanya memiliki satu bahasa daerah (bahasa Jawa) tanpa dialek atau subdialek. Dengan demikian, pemerintah daerah baik eksekutif maupun legislatif tidak ragu-ragu untuk membuat regulasi mengenai pemeliharaan, pelindungan, dan pengembangan bahasa Jawa di DIY. Hal itu tentu berbeda dengan daerah lain yang memiliki lebih dari satu bahasa atau dialek. Keuntungan itu memudahkan para pemangku kepentingan berkolaborasi dan bekerja bersama merevitalisasi bahasa Jawa.
Selain menyampaikan keberhasilan, Kepala Balai Bahasa juga menyampaikan evaluasi program RBD di DIY, yaitu kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengajar bahasa Jawa di SD dan SMP. Mereka kekurangan tenaga pengajar yang kompeten serta kekurangan bahan ajar. Dwi Pratiwi juga menyampaikan bahwa buku cerita anak berbahasa Jawa terbitan Balai Bahasa DIY masih berupa soft file belum dicetak karena keterbatasan anggaran. Dwi Pratiwi berharap agar Pemda DIY atau pihak lain dapat mencetak buku-buku tersebut dan menyebarluaskan ke sekolah-sekolah yang belum terjangkau internet. Sementara sekolah yang sudah terjangkau internet dapat membaca buku-buku cerita melalui laman penerjemahan.kemdikbud.go.id.
Menanggapi hal itu, GKR. Hemas merasakan perlunya optimalisasi kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Selain itu, revitalisasi bahasa Jawa perlu melibatkan generasi muda antara lain melalui Karang Taruna agar pola kegiatan RBD dapat disesuaikan dengan cara pikir anak muda. Dalam waktu dekat, GKR Hemas berencana mengadakan pertemuan antarpemangku kepentingan untuk dapat duduk bersama membicarakan langkah yang perlu ditempuh.
Sementara itu, Duta Bahasa DIY yang turut hadir pada audiensi menyampaikan kegiatan mereka mengalihwahanakan manuskrip kuno menjadi komik yang rupanya berhasil memikat perhatian anak-anak usia SD. Menanggapi hal itu, GKR Hemas menegaskan bahwa upaya seperti itu perlu terus dilakukan agar anak-anak DIY sadar kekayaan daerah dan menguatkan jati diri generasi yang hidup di daerah istimewa. Demikian pungkas GKR Hemas mengakhiri sesi dialog yang dilanjutkan dengan foto bersama. Di akhir pertemuan, Permaisuri Sri Sultan HB X yang juga anggota DPD RI itu berkenan membuat testimoni mengenai keberhasilan RBD yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa DIY dan perlunya dukungan berbagai pihak. (RTN)