Siaga Bahasa: 08112654302 Email: balaibahasadiy@kemdikdasmen.go.id

Informasi

Artikel

Angkringan, Riset, dan Bahasa: Audiensi BRIN-Balai Bahasa Provinsi DIY

Yogyakarta, 22 Juli 2026—Suasana hangat menyelimuti ruang pertemuan Balai Bahasa Provinsi DIY pada Rabu pagi. Tepat pukul 09.00, audiensi pemanfaatan hasil penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dimulai. Di balik meja panjang, para peneliti dari dua lembaga duduk berdampingan yang menandai sebuah kolaborasi yang bukan sekadar bentuk formalitas, melainkan juga upaya nyata menghadirkan riset yang berakar pada budaya lokal.

Angkringan sebagai topik penelitian berjudul “Angkringan Jogja: Cerita, Rasa, dan Bahasa” seolah mengajak hadirin menyelami denyut kehidupan DIY. Angkringan bukan sekadar tempat makan murah meriah, melainkan juga ruang interaksi sosial: tempat cerita bertukar dan bahasa berkembang. Melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi, tim BRIN merangkai potret angkringan sebagai ikon kuliner sekaligus simbol kearifan lokal.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra, BRIN, Ade Mulyanah, menegaskan bahwa riset kuliner khas akan dilakukan di setiap daerah. DIY direpresentasikan oleh angkringan yang paling relevan dengan identitas masyarakatnya.

Suara dari Balai Bahasa
Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY, Umar Solikhan, bersama Wuri Rohayati, Nindwihapsari, dan Nur Alif Fatonah, menyampaikan pandangan bahwa hasil penelitian ini bukan hanya dokumentasi, melainkan juga sarana pembelajaran. Buku yang tengah disiapkan akan menjadi bahan pengayaan bagi mahasiswa BIPA untuk memperkenalkan bahasa Indonesia melalui konteks budaya DIY.

“Bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama budaya,” ujar salah satu pembicara yang menekankan pentingnya riset yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.

Manfaat Nyata
Audiensi ini menegaskan bahwa riset tidak berhenti di meja akademik. BRIN menekankan kebermanfaatan nyata: hasil penelitian harus bisa diakses, dipahami, dan digunakan masyarakat. Untuk itu, Balai Bahasa Provinsi DIY akan berperan dalam sosialisasinya untuk memastikan bahwa buku tentang angkringan menjadi jembatan antara penelitian dan kehidupan sehari-hari.

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memperkuat sosialisasi nilai budaya lokal sehingga menjadikan angkringan bukan hanya ikon kuliner, melainkan juga media pembelajaran bahasa dan budaya.

Tindak Lanjut
Buku hasil penelitian masih dalam proses penerbitan. Namun, audiensi ini sudah menjadi tonggak penting yang memperkuat posisi angkringan sebagai simbol budaya DIY sekaligus memperluas pemanfaatannya dalam pendidikan bahasa.

Dengan sinergi BRIN dan Balai Bahasa Provinsi DIY, angkringan kini bukan hanya tempat untuk duduk di kursi kayu sambil menyeruput teh panas, melainkan juga ruang belajar lintas budaya yang menghubungkan lokalitas dengan dunia.

  • CIOBET88 4D SLOT

    SLOT GACOR HARI INI CIOBET88

    LIVE SCORE BOLA CIOBET88