Siaga Bahasa: 08112654302 Email: balaibahasadiy@kemdikdasmen.go.id

Informasi

Berita

Anak Muda, Kambing Hitam Lunturnya Bahasa Nasional dan Bahasa Daerah?

(Peran Duta Bahasa DIY dalam Penguatan Bahasa Daerah)

Bryan Pratama Putra
Dyah Niken Rahmawati

“Le, kok ora mangkat sekolah?”
“Ora, Buk, kelase online. Tapi ana tugas.”
“Oh, ya wis ndang digarap.”
“Santuy, Buk. Iki lagi browsing.”
“Browsing? Apa kuwi, Le?”
“Haduh, browsing ki googling, Buk.”
“???” 1

Kemajuan peradaban mustahil untuk dihindari. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa banyak dampak ke berbagai lini kehidupan. Tidak dapat dimungkiri, kemajuan ini juga membawa keresahan bagi sebagian anggota masyarakat. Paparan teknologi dan globalisasi dikhawatirkan akan semakin menjauhkan generasi sekarang dari jati diri bangsanya. Tanda-tanda itu sudah terlihat, sebagaimana diungkapkan oleh Azima dkk (2021), pada kecenderungan generasi muda yang dinilai lebih gemar mengikuti perkembangan budaya lain daripada belajar menggali budaya sendiri.


Dalam dunia kebahasaan, generasi muda pun sering dianggap paling berperan dalam pengembangan bahasa gaul yang cenderung menggerus penggunaan bahasa ibu mereka. Mengenai dampak bahasa gaul ini, Suleman dan Islamiyah (2018) menggunakan penggambaran yang menarik dengan mengatakan, “Kalau generasi negeri ini kian tenggelam dalam pudarnya bahasa Indonesia yang lebih dalam, mungkin bahasa Indonesia akan semakin sempoyongan dalam memanggul bebannya sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa.”

Hal ini sebenarnya dikarenakan, sebagai generasi yang lahir di era digital, anak-anak muda sudah terbiasa melihat dunia lebih luas tanpa ada batasan negara dan budaya yang jelas sehingga ekspresi dan cara mereka berinteraksi tanpa sadar sering mencampuradukkan budaya lain dengan budaya bangsa sendiri. Seperti pada ilustrasi di awal tulisan, dalam hal ini seorang anak muda memilih menggunakan istilah-istilah asing untuk menggambarkan aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena tersebut adalah hal lumrah yang nyata terjadi di masyarakat kita hari ini.

Membaca kondisi itu, tepatkah kita menjadikan generasi muda sebagai kambing hitam atas tergerusnya budaya dan bahasa Indonesia hari ini?

Pertanyaan itu seolah-olah terjawab dengan hadirnya duta bahasa yang dinaungi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Adanya duta bahasa merangkul anak-anak muda yang memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap bahasa ibunya seakan-akan menjadi jawaban perlawanan atas pertanyaan di atas. Alih-alih menempatkan anak muda sebagai generasi yang konon katanya menggerus budaya bangsanya, ruang ekspresi berupa ajang duta bahasa memberikan kesempatan bagi mereka untuk turut serta berperan dalam pengembangan bahasa dan budaya Indonesia.

Potensi generasi muda untuk menggerakkan masyarakat memang tidak bisa disepelekan. Karakternya yang cepat belajar, berorientasi pada inovasi, serta terbuka untuk berkolaborasi memang dibutuhkan di zaman ini. Hal itu pun begitu tampak pada anak-anak muda di ikatan duta bahasa baik di ranah provinsi maupun nasional yang terus berupaya melahirkan ide-ide cemerlang untuk pengembangan bahasa dan budaya.

Tidak terkecuali di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), keresahan akan lunturnya bahasa daerah mendorong generasi muda yang tergabung di Ikatan Duta Bahasa DIY untuk turut hadir memberikan solusi. Pasalnya, provinsi yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan ini menjadi titik temu bagi banyak pelajar, mahasiswa, maupun turis dari berbagai daerah lain di Indonesia bahkan mancanegara. Artinya, latar belakang budaya yang berdinamika di provinsi ini sangatlah beragam.

Fakta ini menyentil pikiran anak-anak muda di Duta Bahasa DIY, bagaimana agar kondisi tersebut tidak lantas menggerus budaya dan terlebih bahasa daerah masyarakat lokal di DIY?

Oleh karenanya, Duta Bahasa DIY berupaya menghadirkan sebuah aplikasi bernama Bejaji yang bervisi menjadikan semua orang dapat berinteraksi menggunakan bahasa Jawa dengan lebih mudah. Nama “Bejaji” merupakan sebuah akronim dari visi tersebut, yakni “Belajar Bahasa Jawa dengan Satu Jari”. Namun, tidak semata-mata sebagai sebuah akronim saja, pemilihan nama “Bejaji” pun sebetulnya diambil dari istilah bahasa Jawa yang artinya ‘sesuatu yang berharga atau sangat berarti’. Ini juga menjadi representasi bahwa generasi muda yang mengembangkan aplikasi ini benar-benar memandang bahasa daerahnya sebagai hal yang berharga untuk terus dikembangkan.

Pada dasarnya, fitur utama aplikasi ini adalah asisten suara yang menjembatani orang-orang penutur bahasa Indonesia atau bahasa Inggris agar mudah berinteraksi dengan masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa. Melalui fitur itu, mereka bisa mencari padanan kata yang tepat dari ketiga bahasa tersebut sehingga apabila ada mahasiswa atau turis pendatang dari daerah lain yang ingin bercakap-cakap dengan masyarakat daerah, mereka tidak akan kebingungan menemukan kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu.

Tidak hanya berkutat pada penyediaan kosakata bahasa, Duta Bahasa DIY juga menyadari bahwa bahasa juga memiliki kaitan erat dengan budaya. Oleh karena itu, aplikasi Bejaji pun menyediakan dua fitur lain yakni fitur Sapaan dan Panduan Aktivitas yang memberikan rekomendasi bahasa tubuh dan gaya bahasa saat berinteraksi menggunakan bahasa Jawa. Dilengkapi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, aplikasi tersebut akan menjelaskan dengan mudah ungkapan bahasa Jawa yang umumnya digunakan dalam berbagai konteks aktivitas.

Selain itu, aplikasi ini tidak hanya memosisikan bahasa sebagai alat komunikasi pasif yang cukup dipelajari dalam sebuah aplikasi di layar ponsel, melainkan juga mendorong adanya praktik secara langsung agar dapat mengasah kemampuan berbahasa pengguna. Untuk itu, terdapat pula fitur Pusat Informasi Pariwisata (PIP) yang menyediakan daftar informasi mengenai desa wisata di DIY sebagai rekomendasi tempat yang dapat dikunjungi oleh pengguna bila ingin berinteraksi dan belajar menggunakan bahasa Jawa secara langsung dengan masyarakat lokal. Desa-desa wisata tersebut merupakan mitra yang sudah dirangkul oleh Duta Bahasa DIY untuk bekerja sama meningkatkan penggunaan bahasa Jawa.

Proses pengembangan aplikasi sebagai upaya penguatan eksistensi bahasa Jawa ini membuahkan beragam refleksi mengenai peran anak muda dalam pengembangan dan pembinaan bahasa, khususnya bahasa daerah. Meskipun begitu, setidaknya ada dua hal paling utama yang perlu digarisbawahi. Pertama, generasi muda menyadari bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah keniscayaan. Kedekatan mereka dengan teknologi perlu dimanfaatkan untuk semakin menguatkan ikatan mereka dengan budaya dan bahasa sendiri sehingga hadirnya aplikasi Bejaji menjadi sangat relevan bagi generasi hari ini.

Kedua, generasi muda memercayai betul bahwa kolaborasi adalah kunci. Terpapar dengan globalisasi membuat mereka menyadari bahwa dunia sangatlah luas. Ada hal lain di luar diri, di luar tempat tinggal, serta di luar budaya mereka. Kesemuanya dapat menjadi rekan kerja sama untuk meraih tujuan baik bersama-sama, seperti yang dilakukan oleh Duta Bahasa DIY dengan melibatkan desa-desa wisata di DIY. Bahkan tidak hanya itu, untuk membumikan sosialisasi aplikasi Bejaji, mereka melebarkan sayap dengan menggandeng berbagai instansi pemerintahan dan perguruan tinggi. Tak luput juga lembaga dan komunitas anak muda, seperti Ikatan Duta Museum DIY, Dimas Diajeng se-DIY, Duta Kampus se-DIY, dan sebagainya.

Upaya pengembangan dan pembinaan bahasa merupakan sebuah perjalanan panjang yang tidak mungkin dilakukan sendirian. Perlu banyak peran yang saling berkesinambungan dengan berbagai pihak. Duta Bahasa DIY sangat mengimani hal ini dan mewujudkannya dalam pengembangan aplikasi Bejaji. Semoga upaya ini membuahkan dampak baik dalam pengembangan bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, ke depannya.

REFERENSI

Azima dkk (2021). Pengaruh Masuknya Budaya Asing terhadap Nasionalisme Bangsa Indonesia di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5 (3), 7491-7496. Diakses pada 17 Oktober 2022 melaluihttp://simkatmawa.kemdikbud.go.id/v3/assets/upload/foto_non_lomba_061016_1560700655018261800.pdf

Suleman, J. dan Islamiyah, E.P.N. (2018). Dampak Penggunaan Bahasa Gaul di Kalangan Remaja terhadap Bahasa Indonesia. Prosiding Senasbasa (Seminar Nasional Bahasa dan Sastra), (3), 153-158. Diakses pada 17 Oktober 2022 melalui https://www.jptam.org/index.php/jptam/article/download/2186/1913

[1] Percakapan bahasa Jawa di atas bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan menjadi sebagai berikut.

“Nak, kok nggak berangkat sekolah?”

“Tidak, Bu, kelasnya online. Tapi ada tugas.”

“Oh, kalau begitu segera dikerjakan.”

“Santai, Bu. Ini sedang browsing.”

“Browsing? Apa itu, Nak?”

“Aduh, browsing itu googling, Bu.”

“???”

  • CIOBET88 4D SLOT

    SLOT GACOR HARI INI CIOBET88

    LIVE SCORE BOLA CIOBET88